Oktober 5, 2022
Spread the love

Makasar adalah sebuah wilayah di provinsi Papua Indonesia yang berbatasan dengan Provinsi Papua bagian barat. Ibukota wilayah ini berada di belakang Pulau Irian, wilayah Makasar. Total populasi Napier pada tahun 2021 akan menjadi 172.960.

Kabupaten Nabire terletak di provinsi Papua dan di kawasan Teluk Cendrawasih di Samudera Pasifik. Daerah ini terletak di lantai 3 Bumi dan rentan terhadap gempa bumi. Satu terjadi pada 6 Februari 2004, dan gempa bumi berkekuatan 7,2 melanda Napier pada 26 November 2004. slot pragmatic

Tentu saja, ini bukan tentang minat Napier. Berikut 6 fakta menarik tentang Kabupaten Nabire yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

Baca juga

1. Sejarah nama Napier

Ada beberapa versi asal kata Napier dan artinya. Berdasarkan cerita suku Wate, kata “Napier” berasal dari “Nawi”, keadaan alam Napier yang banyak terdapat kecoa, terutama di sepanjang Sungai Napier. Seiring waktu, kata ‘naoi’ diucapkan ‘noir’ dan akhirnya menjadi ‘napier’.

Menurut versi Yerisyam, Napier berasal dari kata “Naviri”, yang berarti daerah yang sunyi atau daerah yang sunyi. Penyebutan Nabirei muncul sebagai nama tempat diadakannya pesta perdamaian antara suku Hegure dan Yerisiam.

Pengucapan Nabi-rei kemudian diubah menjadi Nabi-rei, yang digunakan secara resmi untuk nama-nama lokal. Keputusan Bupati pertama, Almarhum AK Surgutanogo.

Versi lain dari suku ini berasal dari Napier di Na Weri, yang berarti Daerah yang Hilang. Pemahaman ini berkaitan dengan merebaknya wabah penyakit yang melanda penduduk setempat, sehingga banyak yang meninggalkan Napier hingga kawasan tersebut hancur. Lambat laun, pejantan Na Wyere berubah menjadi Nabire.

Versi lain dari suku Hegure adalah bahwa Napier berasal dari Inambre. Dengan kata lain, pantai ini penuh dengan pohon palem seperti pohon palem, pohon palem hutan, pohon Jepang, dan jenis pohon lainnya. Referensi ke Inambre diubah menjadi Nabire dari waktu ke waktu karena hubungan/komunikasi dengan suku-suku yang bermigrasi.

Sebuah pulau kecil di Kepulauan Mora, kawasan Teluk Sundrawase Napier, memiliki ikan yang unik. Penduduk Pulau Mambor menyebut mereka ikan pasir karena mereka suka menyelam dan bersembunyi di pasir saat merasa terancam.

Ikan ini hidup di laut berbatu dan berpasir dengan kedalaman 1 hingga 90 m. Ikan pasir ini juga hidup di daerah dangkal yang masih asli dengan dasar berpasir, biasanya di sekitar padang lamun dan padang koral.

Baca juga

Ikan ini memiliki panjang 15-20 cm dan membentuk ujung runcing di bagian depan kepala. Moncongnya sangat tajam dan mulutnya menyerupai burung beo. Warga Mambu di wilayah Kepulauan Mora Napier menangkap ikan pasir untuk konsumsi.

Ikan biasanya ditangkap saat air surut. Diperlukan pengetahuan khusus untuk menemukan ikan ini. Tanda-tanda di permukaan pasir menunjukkan batu-batu kecil yang menunjukkan sarang ikan ini, dan ada kepercayaan bahwa jika betina tidak menangkap ikan ini, itu akan dianggap tidak cocok. pernikahan.

Pulau Kaputar adalah salah satu kabupaten di Papua, Kabupaten Makasar, Kabupaten Kepulauan Mora, Desa Mambor. Pulau Mambur di Qabutar digunakan sebagai pulau lumbung makanan. Air adalah tempat ikan dipanen, dan tanah adalah tempat hortikultura, tikus tanah dan mallow diburu, dan hasil hutan lainnya dipanen.

Lautnya kaya akan berbagai jenis biota laut, dan daratannya memiliki pohon kelapa, pisang, sukun, sagu, pinang, mingu, nanas, matua, langsat, durian, dan umbi-umbian.

Ada pepatah di Pulau Mampur bahwa “ikan memakan semuanya tanpa mati selama satu jam”. Artinya, karena ikan yang dimaksud masih segar. Perburuan populasi juga opsional. Ikan besar atau konsumsi (hasil mancing atau baluffy – mancing saat air surut), ikan kecil dibiarkan tidak tertangkap.

Populasi kura-kura dunia telah menurun sangat cepat dalam beberapa dekade terakhir sebagai akibat dari perburuan telur ilegal oleh tangan-tangan hooligan. Dalam upaya menyelamatkan reptil ini, sebuah penangkaran penyu telah dibuka di Kabupaten Makasar.

Keberadaan ekowisata mengarahkan masyarakat untuk mengalihkan aktivitasnya dari aktivitas eksploitatif. Ekowisata bekerja sama dengan Dinas Perikanan Laut Kabupaten Napier dengan warga Desa Makemi di Kecamatan Napier Makeme.

Desa McKimmi memiliki kelompok konservasi penyu yang didukung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Napier, dan kelompok relawan konservasi penyu di Desa McKimmi di Kabupaten Napier. Kelompok ini mendapat banyak perhatian dari pemerintah, dengan Gubernur Napier mengunjungi daerah itu pada pertengahan 2018 dan melepaskan 200 bayi penyu.

McKimmy Village diproyeksikan menjadi desa wisata penyu yang nantinya dapat memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang maksimal bagi kesejahteraan masyarakat dengan tetap mengutamakan konservasi dan kelestarian penyu.

Deretan pantai yang menakjubkan berada di jantung kekayaan alam Napier. Tidak jauh dari pantai adalah Pantai Mona Lisa, dinamai pemilik resor terkenal di Napier.

Daya tarik utama pantai ini terletak pada pemandangannya yang unik dan masih alami. Anda juga akan melihat bahwa ada jembatan dengan kerudung di kedua sisinya bagi wisatawan untuk bersantai.

Pantai Gedo berjarak sekitar 20 menit berkendara dari pusat kota Napier. Begitu sampai di lokasi, Anda akan disambut dengan pasir putih dan pasir lembut.

Kunjungan ke Pantai Sawa Napier adalah suatu keharusan jika Anda ingin berenang dan melihat hiu secara langsung. Pantai ini terkenal dengan hiu. Untuk melihat hiu ini, Anda harus terlebih dahulu menyeberangi pulau dan mencari bantuan dari penduduk setempat. Karena hanya hiu yang bisa dipanggil.

Selain hiu, daya tarik lain dari Pantai Sawa adalah memiliki garis pantai sepanjang 10 kilometer. Air lautnya sangat jernih dan alami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.