November 28, 2022
Spread the love

Kedutaan Inggris telah dikritik oleh beberapa partai politik karena mengibarkan bendera pelangi untuk orang-orang lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT).

Anggota VIII DPR RI, termasuk Anggota Bakhouri Yusuf, yang memprotes pengibaran bendera pelangi LGBT di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta.

Menurut Khoury, pemahaman-pemahaman tersebut tidak sejalan dengan cara hidup masyarakat lokal Indonesia, serta nilai dan norma. judi

“Kami mendukung upaya pemerintah untuk menegakkan kedaulatan kami dengan mengirimkan pesan yang jelas di Indonesia bahwa tidak ada perwakilan asing yang dapat melakukan kampanye provokatif terhadap nilai dan standar yang tidak sesuai dengan cara hidup lokal.”

“Anda harus berhenti mempromosikan gay, biseksual dan transgender dan menunjukkan niat baik untuk menghormati nilai-nilai universal dan norma-norma masyarakat Indonesia.”

“Pemikiran LGBT diterima karena liberalisme Barat dan pandangan sekuler.”

“Tapi jangan paksa masyarakat kita untuk meremehkan negara ini.”

Bakhouri mengatakan, Minggu (22/5/2022), mengutip situs resmi dpr.go.id, “Selain bertentangan dengan Konstitusi, itu bertentangan dengan prinsip moral dan agama umat beragama Indonesia.”

Perilaku seksual menyimpang ini merupakan ancaman serius bagi kesehatan selain tidak sesuai dengan konvensi masyarakat.

Hal ini berisiko menularkan penyakit menular seperti HIV/AIDS.

Karena itu, seorang anggota dapil 1 Jawa Tengah mendesak pemerintah segera menghentikan kampanye jalur cepat LGBT.

“Ini harus menjadi kampanye yang mendukung pemulihan dan meningkatkan kesadaran untuk kembali ke sifat manusia, bukan kampanye untuk mendukung perilaku menyimpang,” kata Park.

Fraksi PKS sejak awal berpendapat bahwa UU TPKS harus memuat aturan tentang perilaku seksual berbasis penyimpangan.

Untuk tujuan mengatasi ketidakabsahan hukum yang terkait dengan kasus ini.

Namun, pemerintah tidak menyerap pemerintah untuk menyusun RUU TPKS.

Bakhouri mengatakan pemerintah dan Republik Demokratik Kongo sudah memiliki opsi lain untuk mengisi kekosongan hukum terkait LGBT.

Pertama, perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) harus segera disahkan.

Kedua, mulailah membahas RUU propaganda anti-seks segera.

Bahasa Inggris tidak sensitif

Selain Bukhari, Wakil Direktur MPR RI, M Hidayat Nur Wahid mengkritik langkah pengibaran bendera Kedutaan Besar Inggris di Jakarta.

Hanya atas dasar hak asasi manusia mereka harus menggali lebih dalam tempat hak asasi manusia di Indonesia.

“Perilaku ini patut dikutuk. Meski dilakukan oleh pihak kedutaan, untuk menjaga hubungan baik dengan Indonesia, kita harus menghormati norma-norma diplomatik.”

“Saya tidak terlibat dalam perilaku provokatif yang dapat menyebabkan masalah.”

Bisa dikatakan itu adalah bentuk imperialisme HAM yang mengibarkan bendera gay karena tindakannya yang tidak mempertimbangkan aspek domestik HAM,” ujarnya.

Mengutip Hedayat, Hedayat mengatakan, “Sebenarnya, pernyataan resmi kedutaan dapat dinilai sebagai semacam imperialisme hak asasi manusia yang memaksakan pandangan hak asasi manusia asing yang dianut oleh kedutaan.”

Menurutnya, propaganda untuk “memaksa” dukungan LGBT di Indonesia telah menimbulkan keresahan, perdebatan dan penolakan di masyarakat luas.

Ini telah dikritik oleh banyak kelompok masyarakat sipil dan Islam seperti MUI, Muhammadiyah, NU Jawa Timur dan akademisi.

HNW melanjutkan, “Pemerintah Republik Indonesia juga dikritik melalui Kementerian Luar Negeri karena menyebabkan gangguan dan pertengkaran dengan kedutaan Inggris melalui ketidakpekaan.”

Banding Kedutaan Besar Inggris

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu RI) memanggil Duta Besar Inggris untuk Indonesia Owen Jenkins ke Jakarta pada Senin (23/5/2022).

Pemanggilan ini dilakukan untuk meminta klarifikasi terkait pengibaran bendera LGBT.

Posisi kedutaan Inggris dianggap tidak sensitif terhadap urusan dalam negeri Indonesia.

Kementerian Luar Negeri Indonesia serta Kedutaan Besar Inggris telah memperingatkan semua perwakilan asing di Indonesia untuk tetap peka dan hormat di Indonesia.

(/Gallo dan Widia Wardani/Larsati Dia Atami)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *