Oktober 5, 2022
Spread the love

Keputusan Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk melarang impor pupuk kimia pada April 2021 berdampak pada penurunan hasil panen di Sri Lanka secara signifikan. Kini di tengah bencana ekonomi, pemerintah kembali mencabut larangan tersebut dan berjanji menjamin ketersediaan pupuk untuk musim tanam berikutnya, mulai September hingga Maret. slot88

Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengatakan di akun Twitter-nya pada hari Kamis: Aktor 5) Malam.

Saya dengan sungguh-sungguh meminta semua warga untuk memahami situasinya.”

Presiden Rajapaksa melantik sembilan menteri baru pada Jumat (20/5) untuk menduduki jabatan Kementerian Kesehatan, Perdagangan, dan Pariwisata. Wickremesinghe percaya bahwa jabatan Menteri Keuangan akan terus dilakukan oleh Wickremesinghe.

Bank sentral Sri Lanka mengumumkan pada hari Kamis bahwa mereka telah mengamankan mata uang asing yang cukup untuk impor bahan bakar. Uang itu berasal dari pinjaman bank dunia. Namun, pasokan gas dan minyak belum sepenuhnya pulih.

Krisis ekonomi Sri Lanka diperkirakan akan mendorong inflasi hingga sekitar 40% dalam beberapa bulan ke depan. Bank sentral mengatakan kenaikan inflasi karena gangguan dalam rantai pasokan.

Tingkat inflasi pada April mencapai 29,8%, dan harga komoditas naik 46,6% dari tahun lalu.

Negosiasi Hutang

Tahun ini, Sri Lanka harus melunasi utang sebesar US$7 miliar atau sekitar US$10 miliar. 100 triliun kepada debitur asing. Namun, pembayaran dibekukan secara sepihak saat pemerintah Kolombo sedang bernegosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Setengah dari utang Sri Lanka senilai $25 miliar berasal dari sektor swasta. Sisanya merupakan pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) dan Jepang. Sementara itu, China merupakan negara pengutang terbesar ketiga Sri Lanka.

Namun, pemerintah Beijing memiliki kekuatan hukum untuk menunda negosiasi restrukturisasi utang.

China sejauh ini berjanji untuk memainkan “peran positif” dalam negosiasi pinjaman darurat dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Komplikasi di Beijing

Ekonom Sri Lanka Wijewardena mengatakan: “Pemerintah China tampaknya enggan membayar utang Sri Lanka karena takut akan tuntutan serupa dari negara lain yang telah meminjam uang dari Belt and Road Initiative.”

“Jika China membuat konsesi ke Sri Lanka, seharusnya membuat konsesi serupa dengan kreditur lain. Mereka tidak mau mengambil risiko,” katanya.

Keengganan China untuk mencuci utang dalam negeri akan menghambat negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF), yang memprioritaskan restrukturisasi utang di atas segalanya. Sektor swasta juga akan didorong untuk menolak pemotongan utang di Sri Lanka.

“Kurangnya kerjasama di Beijing dapat mempersulit pemulihan utang Sri Lanka,” kata Aditi Mittal dari perusahaan konsultan Verrisk Maplecroft.

Bank sentral Sri Lanka berpendapat bahwa mereka harus menyiapkan proposal restrukturisasi utang untuk keluar dari krisis. Gubernur Bank SentralB.

“Sampai utang itu terstruktur, tidak bisa dicicil,” katanya.

rzn / sebagai (rtr, ap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.