November 28, 2022
Spread the love

Badan Meteorologi, Iklim, dan Geofisika (BMKG) DKI Jakarta memprakirakan cuaca sebagian besar ibu kota berawan. Sementara itu, Senin pagi, 13 Juni 2022, hujan ringan di wilayah timur dan utara Jakarta akan turun.

Pada sore hari, BMKG melaporkan bahwa badai petir dengan angin kencang dapat terjadi di seluruh wilayah DKI Jakarta pada sore hari.

BMKG mengeluarkan imbauan cuaca dini hari Senin, “*Harap diperhatikan bahwa kemungkinan terjadi hujan kilat dan petir serta angin kencang jangka pendek di wilayah Jakarta bagian selatan, barat, tengah, dan timur pada sore dan malam hari.” 13 Juni .  jam slot gacor malam ini

Sementara itu, kondisi cuaca di empat kota pendukung Jakarta diperkirakan berawan. Hujan pada siang hari kemungkinan akan disertai kilat dan angin kencang.

BMKG mengatakan: “Mewaspadai kemungkinan hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang antara siang hingga malam di Kabupaten Bogor, Kota, Kota Depok, Kabupaten Pixie dan beberapa wilayah Kota”.

Sementara itu, Dwikorita Karnawati, Direktur Badan Meteorologi, Iklim, dan Geofisika (BMKG), mendesak para insinyur Indonesia untuk bekerja sama mengatasi berbagai ancaman bencana yang ditimbulkan oleh perubahan iklim atau bantuan vulkanik.

Menurutnya, peran insinyur dalam upaya mitigasi dampak bencana alam sangat dibutuhkan.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di Cincin Api, dengan aktivitas seismik yang tinggi, sehingga rentan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, banjir bandang, banjir rob, angin topan, dan tanah longsor.

“Ini tantangan kita semua, termasuk para insinyur di Indonesia, harus bersinergi untuk mencapai zero korban,” kata Dwikorita di Webinar Dies Natalis ke-70 Persatuan Insinyur Indonesia (PII) (Sabtu 6 April 2022). .

Ia mengatakan dengan memposisikan masyarakat sebagai mitra aktif, para insinyur Indonesia harus selalu memprioritaskan atau mengintegrasikan manajemen risiko bencana ke dalam semua operasi perencanaan, penyebaran, operasi dan pemeliharaan infrastruktur.

Mereka juga akan terus membutuhkan pemberdayaan melalui Dwikorita, pendidikan dan literasi agar masyarakat dapat berpartisipasi dalam pemeliharaan, pemeliharaan dan pengoperasian infrastruktur yang dibangun.

Dwikorita juga mengatakan, perubahan iklim menjadi salah satu faktor penyebab cuaca ekstrem di Indonesia. Dimulai dengan hujan lebat disertai kilat dan guntur, siklon tropis, gelombang tinggi, hujan es atau kekeringan berkepanjangan.

Oleh karena itu, upaya mitigasi diperlukan secara komprehensif dan terukur di semua pihak dan tingkat masyarakat untuk mengekang laju perubahan iklim dan untuk beradaptasi serta memitigasi dampaknya.

Menurutnya, jika situasi saat ini terus berlanjut, suhu di seluruh pulau besar Indonesia akan meningkat sebesar 3,5-4 derajat Celcius pada tahun 2100. Ini adalah peningkatan empat kali lipat dibandingkan dengan tingkat pra-industri. Akibat kenaikan suhu ini, diperkirakan es di puncak Gaya Wijaya Papua akan hilang seluruhnya pada tahun 2025.

“Langkah mitigasi harus segera dilakukan dan tidak bisa ditunda-tunda karena situasi saat ini sangat mengkhawatirkan. Misalnya, Topan Seroza dari NTT pada tahun 2021 tidak boleh terjadi di daerah ini. peristiwa “.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *