September 29, 2022
Spread the love

Jakarta – Di Indonesia, nama Soto Soto mulai terkenal di tahun 1970-an. Dia adalah Ketua Dewan Direksi perusahaan minyak milik negara Indonesia, Pertamina.

Padahal, saat itu Pertamina disebut state in state karena kekayaan dan pengaruh Ibnu Soto.

Sejak awal, Ketua Umum Suharto ingin membawa pulang BJ Habibie dari Jerman untuk membantu memajukan Indonesia di bidang teknologi. slot online terpercaya

Untuk mewujudkan niatnya, Suharto mengutus Pertamina putra Pertamina ke Jerman pada Desember 1973 untuk menemui PJ Habibie.

Habibi tinggal bersama istrinya Ainun di sebuah desa sekitar 10 km dari Hamburg, Jerman. Orang yang dicintai tinggal di sebuah rumah dengan halaman yang luas.

Habibi terus disibukkan dengan sesama pakar teknologi di Jerman. Saat telepon dari KBRI Bonn, Habibie sedang asyik berdiskusi dengan beberapa peneliti, antara lain Dipl.Ing.Woydak dan Dipl.Ing.Glahn.

Habibie berkata, “Tiba-tiba, sekretaris saya Frau Kalischer datang dan mengatakan bahwa Ibu Aynoun dan Ahmed Turtosodero, Duta Besar Indonesia untuk Bonn, telah menelepon beberapa kali dan berharap saya akan menelepon kembali.

Usai bertemu dengan rekan-rekan peneliti, Habibi pun meminta rekan-rekannya untuk kembali ke kamar masing-masing.

Kemudian kekasihku memanggil istrinya ke rumahnya. Aynoun menyampaikan pesan dari Ahmed Turtosudero di Bonn dan mengatakan bahwa dia telah memberikan nomor telepon kantor suaminya kepada Duta Besar Ahmed Turtosudero.

Seperti biasa, Ainun berkata kepada istrinya, ”Sudah makan?” di telepon. Aynoun biasa mengingatkan suaminya untuk tidak lupa makan, tidak pernah lembur, dan selalu menjaga kesehatan.

Kemudian Habibi memanggil Duta Besar Ahmed Turtosudero. Dalam percakapan telepon, Ahmet Turtosodero berbicara dengan Pertamina Petroleum Dr. Ibnu Soto menyampaikan pesan bahwa ia senang menyambut Habibi di Hotel Hilton Dusseldorf lusa, 14 Desember 1973, pukul 08.00 WIB.

“Aku langsung bertanya padanya. Siapa dia?” tanya kekasihku.

Tentu saja, Duta Besar Indonesia untuk Jerman, Achmad Turtosodero, terkejut karena Habibie tidak mengenal Ibnu Sotou, seorang tokoh nasional yang sudah terkenal saat itu.

Pada hari Jumat, 14 Desember, seperti yang dijanjikan di Dusseldorf, orang yang dicintai menepati janjinya untuk bertemu putra Sotov pada pukul 7 pagi. Kekasihku memasuki kamar hotel tempat sarapan disajikan. Sudah banyak orang Indonesia yang sarapan bersama, dan tidak ada yang mengenal kekasihku.

Pukul 8 di hari yang sama, BJ Habibie menuju ke pakaian kepresidenan Hilton Dusseldorf. Saat saya buka kamar, anak Soto langsung menyampaikan pesan dari Presiden Suharto, dan Habibi sudah datang ke Indonesia untuk menemui presiden, jadi waktunya langsung ditentukan.

Juga ditulis oleh Makmur Makkah dalam buku yang berjudul Habibi and Suharto Imaniya Publishing, dicetak 1 Januari 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.