Oktober 7, 2022
Spread the love

 Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Ibu Negara Iriana mengunjungi Kampus Bambu Turetogo Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 1 Juni 2022. Bambu laminasi Jokowi _Spedagi_ untuk digunakan pada kolom, dinding dan lantai.

Joko Widodo juga menyaksikan presentasi tentang konservasi kekayaan bambu asli Indonesia dan pentingnya bambu untuk restorasi lahan, konservasi air dan mitigasi perubahan iklim. termasuk melalui penanaman hutan sosial dan lahan penting. slot live

Arif Rabei, Ketua Yayasan Bambu Lestari (YBL), menjelaskan tentang sistem bambu susun dan teknologi bambu sebagai alternatif pengganti kayu. Menurutnya, Jokowi menyambut baik perintah tersebut.

Dan Aref, mengutip pernyataan pers, Kamis (2/6/2022), mengatakan, “Itu adalah respons positif ketika presiden bertanya tentang teknologi yang berbeda dan bagaimana membangun dan menyepuh pabrik dengan teknologi yang berbeda.”

Ia melanjutkan, “Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden atas kunjungannya ke kampus Desa Bambu Ngada Flores Toritogo.”

Seperti yang dijelaskan Noir Fozi Rachman, “Kampus Bambu adalah tempat mendidik para Mama Bambu dan generasi muda, dari pengalaman pertama membuat pembibitan bambu, hingga menumbuhkan dan memperluas, serta mempraktikkan pengelolaan hutan bambu yang berkelanjutan.”

“Kami juga akan memberikan pelatihan pendamping lapangan untuk pramuka bambu, kemudian menerima pelatihan di berbagai bidang, termasuk pemerintah daerah dan regulasi industri,” tambahnya.

Ketua Jokowi juga berdiskusi dengan Monica Tanuhandaru, Direktur Eksekutif Yayasan Daftar Bambu (YBL) dan Profesor Elizabeth Anita Widjaja, Ahli Taksonomi Bambu di LIPI.

Dalam kunjungan tersebut, Jokowi dan Ny. Iriana juga melihat berbagai produk bambu, termasuk rumah bambu berkelanjutan dan sepeda bambu yang disebut Spedagi. Jokowi juga sempat berbincang dengan ibu-ibu perintis bambu.

Mama Pioner Bambu menjawab ”Jumlah benihnya bisa sampai 8000, Pak Presiden.”

Bamboo Mama menjelaskan, pihaknya memproduksi 8.000 bibit dan mendapat insentif Rp 2.500 per bayi bambu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.