September 30, 2022
Spread the love

Jakarta – Pentingnya pengelolaan sampah adalah kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan partisipasi aktif dalam pengurangan, penggunaan kembali dan daur ulang.

Demikian disampaikan Septriana Tangkari, Direktur Ekonomi dan Kemaritiman, Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dalam sambutan pembukaan Simposium Literasi Online bertajuk “Pengelolaan Sampah untuk Laut yang Berkelanjutan” yang diadakan di Krewe. Bessir Barat, Lampung, Sabtu (11 Juni 2022). link bola gratis

Acara yang dipandu oleh Menteri Ekonomi Kemaritiman dan Komunikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika ini diselenggarakan secara hybrid di Aula Rampan Yeosu Kabupaten Besir Bharat, dan dapat disaksikan melalui Zoom meeting dan siaran. Disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Sekjen IKP Kominfo.

Sampah plastik merupakan ancaman serius yang dapat membahayakan kehidupan di Bumi. Sampah plastik tidak hanya membahayakan kesehatan manusia, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem laut dan berdampak pada perubahan iklim. 80% sampah laut berasal dari daratan, dan 30% sampah adalah plastik.

Cinta Sabtarina Sumyarno, kepala pengurangan sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, mengatakan ada dua tujuan dan dua indikator dalam pengelolaan sampah, yaitu pengurangan sampah sebesar 30% pada tahun 2025 dan pengurangan sampah sebesar 70% dari pengelolaan sampah pada tahun 2025.

Dampak lingkungan fungsional yang mengatur Rio Nico Fernando Ahara, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pesisir Barat, telah mengatasi banyak kendala pembuangan sampah yang dialami Kabupaten Pesisir Barat, mulai dari minimnya sarana dan prasarana pengelolaan sampah hingga anggaran anggaran. Pemerintah Kabupaten.

Salah satu kendalanya adalah saat ini cakupan wilayah pengolahan dan pengelolaan sampah tidak dapat menampung semua wilayah. Dari 11 kecamatan, layanan LHK hanya menangani 2 kecamatan.” kata Rio.

Namun, menurut Rio, kendala terbesar adalah kurangnya kesadaran masyarakat dan ketidakmampuan wisatawan membuang sampahnya.

Seperti Perwakilan Komunitas Krui Rio Kecah Ko, Mizariadi mengomunikasikan pentingnya kolaborasi dan kesadaran diri masyarakat dan pemangku kepentingan. Pasalnya, fasilitas umum yang mendukung sanitasi di destinasi wisata jauh dari harapan saat ini.

Mizar juga memaparkan banyak kegiatan yang telah dilakukan masyarakat Krui Kecah Ko, antara lain sekolah, penanaman terumbu karang, bersih-bersih pantai “ALISA” atau Aksi Lihat Angkat Sampah. Osan

Menurut Mazar, cara agar orang lebih memperhatikan lingkungannya adalah dengan bergerak dan bertindak tanpa banyak bicara dan penjelasan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.