November 30, 2022
Spread the love

Hari Raya Galungan jatuh pada hari ini (6 Agustus 2022). Hari Raya Galungan akan dirayakan pada hari Sabtu 18 Juni 2022 setelah Hari Kuningan dalam 10 hari.

Hari Galungan dirayakan di Kleewon Dungulan Buddha sebagai hari ketika Dharma (Kebenaran) menang atas Adarma (Kejahatan).  demo slot

“Hari Raya Galungan dimaksudkan untuk memperingati kemenangan Dharma atas Adharma. Manusia memiliki kontrol spiritual atas keinginan-keinginan yang mengganggu ketenangan batinnya untuk kemudian diekspresikan dalam aktivitas sehari-hari secara individu maupun kolektif,” jelas PHDI

Galungan dapat diartikan sebagai bentuk keheningan tentang kemakmuran dan kemewahan Tuhan Yang Maha Esa. Galungan adalah tangga menuju hidup bersih.

Semoga hati yang murni dan murni dapat menghapus semua pengaruh negatif pada festival ini.

Dimulai dengan pria, wanita dan anak-anak Hindu, umat Hindu di Bali merayakan acara ini dengan penuh semangat. Mereka semua mengenakan pakaian tradisional berupa kebaya, yang didominasi warna putih.

Umumnya, wanita menghormati persembahan selama Hari Galungan. Mereka akan pergi ke kuil atau kuil keluarga untuk berdoa.

Umat ​​Hindu mulai buleleng.bulelengkab.go.id merayakan Galungan setiap enam bulan sekali di Bali (210 hari).

Perayaan Hari Raya Galungan identik dengan halte pinggir jalan yang menghiasi jalan raya dengan nuansa alam. Penjor adalah bambu yang didekorasi dengan cara ini sesuai dengan tradisi masyarakat Bali setempat.

Hari Galungan adalah hari bagi umat Hindu untuk merayakan penciptaan alam semesta dan segala isinya. Galungan juga merayakan kemenangan kebaikan (dharma) atas kejahatan (adharma).

Pada Hari Thanksgiving, umat Hindu membuat persembahan dan pengorbanan kepada Widi yang berkuasa dan Dewa Batara (dalam semua manifestasinya).

Penjor yang dipasang di pinggir jalan merupakan penghormatan kepada Bhatara Mahadewa.

Hari Raya Galungan terdiri dari rangkaian kegiatan yang memiliki makna tersendiri. Dari puncak Tumpek Wariga, Java Sugihan, Bali Sugihan, Hari Penyekeban, Hari Presentasi, Hari Penampahan, Hari Raya Galungan hingga Hari Galungan Umanis.

Berikut adalah rangkaian hari-hari Galungan.

– Tombeck Wariga

Tumpek Wariga turun 25 hari sebelum Galungan. Di Tumpek Wariga Ista Dewata, Sang Hyang Sangkara dipuja sebagai dewa kemakmuran dan keselamatan tanaman. Sebagai tradisi masyarakat untuk memperingatinya, pengorbanan dilakukan dalam bentuk bubur sumsum tulang (bubur) berwarna seperti bubuk putih untuk umbi-umbian, bangbang untuk ladang, bupogadang dari arboretum, dan tongkat kuning dari arboretum.

Pada hari Tumpek Wariga, semua pohon akan disiram dengan air suci. Air ini dipesan di pura dan disajikan dalam bentuk buboh ini yang diisi dengan sassat beserta mesin pemurnian seperti tanem tuwuh. Setelah selesai, pemilik pohon akan mengetuk atau mengetuk batang pohon saat monolog. Dengan kata lain, pemilik pohon berharap agar pohon buah tersebut segera berbuah dan digunakan untuk perayaan hari raya Galungan. . Kenangan hari itu merupakan bentuk kecintaan manusia terhadap tumbuhan.

– tulisan tangan jawa

Sugihan Jawa adalah hari untuk menyucikan/mensucikan segala sesuatu yang melampaui manusia (Bhuana Agung). Pada hari ini, masyarakat merayakan Mererebu atau Mererebon, yang dilakukan untuk menetralisir segala hal negatif di Buana Agung, yang dilambangkan dengan penyucian Merazan dan rumah. Biasanya, area pura menyiapkan Babi Guling untuk Hathoran dan kemudian membagikan dagingnya kepada masyarakat sekitar setelah upacara selesai. Sugihan Jawa merayakan Wage Wuku Sungsang setiap hari Kamis.

– Hari Penahanan

Hari Fenisia ini memiliki makna filosofis “nyekeb indriya”, yang berarti melarang melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh agama. Hari Pengkeban diperingati setiap hari Minggu di Pahing Wuku Dungulan.

– Hari Penampungan

Hari Penampahan diperingati pada malam Galungan, khususnya pada hari Selasa raja wuku Dungulan. Pada hari ini, penduduk desa akan disibukkan dengan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang pernah mereka terima. Pena ini diisi dengan dekorasi ini pada tongkat bambu melengkung.

Selain membuat penjor, masyarakat menyembelih babi yang akan digunakan dagingnya sebagai alat bantu upacara, dan penyembelihan babi ini juga memiliki makna simbolis yaitu membunuh semua keinginan hewan yang dimiliki manusia.

Kata Pemaridan Guru berasal dari kata Marid dan Guru. Memrid sama dengan ngelungsur/nyurud dan gurunya tidak lain adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hari ini dapat diartikan sebagai hari nyurud/ngelungsur waranugraha, penjelmaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Siwa Guru. Dirayakan pada hari Sabtu Pon Wuku Galungan.

– Ulrihan

Ullihan artinya pulang/pulang. Yang dimaksud dalam konteks ini adalah hari dimana para dewa/leluhur membuang berkah dan karunia umur panjang mereka dan kembali ke surga. Dirayakan pada hari Minggu oleh Wage wuku Kuningan.

hari tembaga

Orang-orang merayakan Hari Raya Kuningan dengan memasang Tamyang, Kulm dan Indong. Tamiang menyerupai cakra, melambangkan senjata dewa Wisnu. Kolem adalah simbol senjata Dewa Mahadewa, dan Endong adalah simbol tas perbekalan yang digunakan oleh para dewa dan leluhur saat berperang melawan Adharma. 

– Haru dan melahirkan

Hari ini adalah hari terakhir perayaan Galungan dan Kuningan. Saya berdoa dan melepas pena yang membuat hari Bi-Namban. Pena dibakar dan abunya ditanam di halaman. Pegat Wakan jatuh di Kliwon wuku Pahang pada hari Rabu, sebulan setelah Galungan.

Hari Kuningan adalah hari yang baik untuk Hari Galungan karena kemenangan Dharma atas Adharma turun untuk menyembah para dewa dan Bitara, di mana mereka turun untuk melakukan pemurnian dan mukti atau untuk menikmati persembahan.

Kemenangan hukum atas adharma yang dirayakan di seluruh Galungan dan Kuningan harus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kliwon, wuku Kuningan, sering disebut Hari Raya Kuningan atau terkadang Tumpek Kuningan, jatuh pada hari Sabtu. Hari itu mereka memasang Tamyang, Kulm dan Indong.

Tamiang adalah lambang senjata dewa Wisnu karena menyerupai cakra dan melambangkan penolak bahaya. Kolem adalah simbol senjata Dewa Mahadewa dan simbol Hyang Widhi, tempat suci para dewa dan leluhur.

Di sisi lain, endong adalah simbol tas perbekalan yang digunakan oleh para dewa dan leluhur untuk melawan Adarma.

Tujuan dari upacara kuningan ini adalah untuk mencari perlindungan dan bimbingan di dalam dan di luar serta kedamaian dan kemakmuran.

Selain penggunaan warna kuning, keunikan hari raya Kuningan adalah shalat wajib selesai sebelum pukul 12.00 siang (tengai tepet).

Menurut umat Hindu, pengorbanan dan doa setelah jam 12 siang hanya dapat diterima oleh Buta dan Kala, karena para dewa semuanya telah kembali ke surga.

seperti loire. Loire adalah hidangan daging cincang yang dicampur dengan sayuran. Makanan ini biasanya dibuat dengan daging ayam, kerbau, bebek atau babi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *