September 29, 2022
Spread the love

Kondisi harga minyak goreng curah terpantau belum mengalami perubahan di beberapa tempat. Meskipun pemerintah telah memperbarui kebijakan minyak goreng curah menjadi Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO).

Melalui kebijakan itu ada aturan mengenai kewajiban pasokan dalam negeri, dan kewajiban mengikuti kebijakan harga di dalam negeri. Meskipun dengan adanya aturan itu kebijakan subsidi sebelumnya di cabut. slot link

Namun ternyata para pedagang di pasar justru memilih untuk tidak menjual minyak goreng curah. Seperti di Pasar Tebet Timur, para pedagang cenderung cari aman untuk tidak menjual minyak goreng curah.

Terpantau sulit untuk menemukan toko yang menjual minyak goreng curah. Para toko sembako hanya menyediakan minyak goreng kemasan, itu pun dengan harga yang masih tergolong tinggi.

Salah satu pedagang sembako di pasar tersebut, Muri mengaku bahwa hingga kini tokonya belum berani berjualan minyak goreng curah kembali. Salah satu penyebabnya yaitu surat edaran berisi penetapan harga jual minyak goreng curah maksimal di Rp 16.000 per kg.

“Buat curah kita belum jualan lagi. Memang ada keluaran baru itu soal program minyak, hanya kita belum di suplai dari sana itu. Belum ada sosialisasi dan pemberutahuan juga,” ujar Muri.

Muri juga menambahkan kalau harga dari distributor pun tidak jauh berbeda dengan patokan harga jualnya itu, sehingga untuk sementara dirinya memilih untuk berhenti berjualan.

Tidak hanya dirinya, lanjut Muri, di pasar ini banyak pedagang yang memilih untuk berhenti berjualan minyak goreng curah untuk sementara waktu.

Sedikit berbeda dengan Muri, Arif, yang juga berjualan sembako di pasar itu berani untuk menjual minyak goreng curah. Hanya saja, Arif menjual minyak tersebut dengan ukuran per jerigen.

“Ini ada minyak goreng curah tapi saya jual per jerigen. Karena saya beli di Rp 15.500 per kg dari distributor dan jual di Rp 16.000 per kg. Satu jerigennya ada yang 15 kg, ada juga yang 16 kg. Untuk harga per jerigen tinggal dikalikan saja,” ujar Arif.

Arif mengungkapkan kalau dirinya memilih menjual minyak per jerigen karena margin atau keuntungan yang didapatkannya dari berjualan minyak hanya berkisar di Rp 500 atau sangat tipis.

“Mengemasnya juga butuh tenaga dan biaya operasional sehingga marginnya tidak mencukupi. Pun saya juga nggak bisa ngiloinnya makanya dijual begitu,” ujar Arif.

Bahkan, kata Arif, hal ini berimbas pada sulitnya menemukan pedagang yang menjual minyak goreng curah di pasar ini.

Arif juga menambahkan kalau hingga saat ini belum ada informasi lebih lanjut mengenai program minyak goreng curah murah atau yang menyerupainya.

“Kalau ada produknya dan diberi harga jual sekian, kemudian ada himbauannya juga untuk dijual harga sekian dengan margin yang tercukupi, mungkin kita bisa jual. Tapi sejauh ini yang ada baru himbauan harga jual di Rp 16.000 per kg itu saja,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.