Oktober 7, 2022
Spread the love

Tepat 121 tahun yang lalu, hari ini, 6 Juni 1901, lahirlah sosok besar dan penting dalam sejarah Indonesia. Ia adalah bapak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Republik Indonesia, Er. Lebih dikenal dengan Soekarno atau Bung Karno.

Nama Sukarno sepertinya konsisten jika berbicara tentang sejarah kemerdekaan Indonesia. Kebesaran nama Bung Karno tidak terlepas dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan negara ini. judi bola slot

Sukarno adalah seorang pahlawan yang berperan penting dalam perang melawan penjajah. Ia dan rekan-rekannya tak lelah memikirkan pembangunan negeri ini.

Mengutip dari Merdeka, Senin (6/6/2022), Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur, dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Soekarno adalah kota pahlawan khususnya Jalan Peneleh Gang Pandean IV No. Saya lahir di 40, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur.

Pelayanan dan karakter Bung Karno sangat baik. Sutradara Hanung Bramantyo membuat film otobiografi berjudul “Soekarno” pada tahun 2013. Ario Bayu sebagai Bung Karno, Maudi Kosnedy sebagai Ingit Ganarsi, dan Tika Brabani sebagai Fatmawati.

Film ini bercerita tentang perjuangan Bon Carno dan pahlawan lainnya untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, kisah cintanya mengkristal pada dua wanita, Injit dan Fatmawati.

Dalam rangka memperingati hari lahirnya Bung Karno, memberikan ulasan mengenai biografi Bung Karno dan foto-foto tempat kelahirannya yang kini menjadi situs cagar budaya yang dirangkum dari berbagai sumber.

sinar inframerah. Sukarno, yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Ayah Soekarno adalah Raden Sukimi Susrudiharjo. Ibunya bernama Ida Ayo Nyoman Rai.

Ayah Sukarno adalah seorang guru. Raden Sukimi bertemu Ida Ayo saat belajar di Sekolah Dasar Aborigin Singaraja di Bali. Sukarno tidak tinggal lama dengan orang tuanya sebelum bergabung dengan kakeknya Radin Hardjocromo di Tulungagung.

Bung Karno belajar di Tulungagung. Sampai akhirnya orang tuanya pergi ke Mojokerto. Di sana ia melanjutkan pendidikannya di Eerste Inlandse School. Kemudian, pada tahun 1911, Soekarno dipindahkan ke ELS (Europeesche Lagere School) dan mendaftar di Hoogere Burger School (HBS).

Pada tahun 1915 Soekarno melanjutkan pendidikannya di HBS di Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya, Sukarno bertemu dengan tokoh-tokoh Islam Sarikat yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto. Dia adalah pebalap Soekarno dari Surabaya.

Bong Karno adalah asisten profesor bernama Charles Prosper Wolf Shoemaker ketika masih mahasiswa. Bung Karno didaulat menjadi penulis beberapa proyek arsitektur kala itu. The Red Tulip House adalah salah satu kreasi terbaik mereka.

Di sana, ide Soekarno untuk membangun negara muncul setelah ia menjadi presiden Republik Indonesia. Kemudian ide tersebut digagas oleh seorang arsitek bernama Sudarsono. Monumen nasional atau monumen nasional adalah salah satu ide cemerlang para pendukungnya.

Kesadaran nasionalis Sukarno akhirnya muncul dan menyebar selama periode ini. Hingga Soekarno aktif di organisasi pemuda Tri Koro Darmo. Organisasi ini dibentuk di Budi Utomo. Organisasi ini kemudian berganti nama menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada tahun 1918.

Pada tahun 1926 Soekarno mendirikan Algemene Study Club di Bandung yang terinspirasi dari Indochina Study Club (dipimpin oleh Dr. Sotomo). Klub Kajian Algemene merupakan pelopor berdirinya Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927.

Pada bulan Desember 1929, Belanda menangkap Sukarno dengan tuduhan bekerja untuk PNI dan mengirimnya ke Penjara Banseibe. Pada tahun 1930, Sukarno dipindahkan ke Penjara Sukhamiskin. Di penjara ini, Soekarno melakukan pekerjaan luar biasa menggugat Indonesia.

Namun semangat Sukarno masih membara, sebagaimana disebutkan dalam setiap surat kepada seorang guru unifikasi Islam bernama Ahmed Hasan. Dari tahun 1938 hingga 1942, Sukarno dideportasi ke provinsi Bengkulu. Sukarno benar-benar bebas setelah pendudukan Jepang tahun 1942.

Pemerintah Kota Surabaya membeli rumah tempat lahir Soekarno dari Surabaya dan menjadi cagar budaya dan bangunan bersejarah. Ketika Anda berkunjung ke rumah Bung Karno di Surabaya, Anda akan disambut dengan kalimat “Inilah tempat kelahiran Dr. Ir Soekarno, bapak”.

Di Rumah Bung Karno, pengunjung bisa belajar tentang sejarah dan tradisi tokoh Koesno, sapaan akrab Soekarno. Pengunjung juga bisa mencontoh perjuangan Sukarno dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Dan agar tidak lupa, sebaiknya siapkan memo untuk mencatat bagaimana perjuangan presiden pertama Republik Indonesia itu sepanjang hidupnya.

Selain bangunan bernilai sejarah tinggi, Rumah Bung Karno Surabaya juga sempat menjadi kontroversi. Saat itu, ahli waris menetapkan harga yang bagus untuk sebuah rumah berukuran 5 x 14 meter persegi.

Pada 17 Agustus 2020, rumah Bung Karno resmi dibeli oleh Pemkot Surabaya. Kontroversi berakhir.

Penyerahan rumah Bung Karno dilakukan pada peringatan 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Saat ini, Rumah Bungkarno termasuk cagar budaya yang dikelola oleh pemerintah kota.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.