Februari 3, 2023
Spread the love

Mengatasi masalah sampah memang tidak mudah, namun ada banyak cara untuk mengatasinya. Konsep ekonomi sirkular merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia. Pemerintah menargetkan pengurangan sampah plastik laut hingga 70% pada tahun 2025.

Konsep ekonomi sirkular mengikuti prinsip meminimalkan limbah dan memaksimalkan sumber daya yang ada. Konsep tersebut mengusulkan untuk memotong siklus konsumsi produksi melalui perpanjangan umur produk, inovasi desain, pemeliharaan, penggunaan kembali, remanufaktur, daur ulang kembali ke produk asli (recycle) dan daur ulang, sehingga mengurangi penggunaan sumber daya, limbah dan emisi serta pengurangan energi yang terbuang. melakukan. ke produk lain. slot gacor hari ini

Namun, ada banyak tantangan yang dihadapi oleh berbagai pihak dalam mencapai ekonomi sirkular di Indonesia dan di mana pengumpulan data dan pelacakan aliran sampah plastik menjadi penting. Sebagai solusi untuk kebutuhan ini, sebuah proyek digital, DIVET, dikembangkan oleh Waste4Change, sebuah perusahaan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab yang didanai oleh Unilever Global melalui program TRANSFORM.

Maya Al-Tamimi mengatakan, “Sesuai dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2022, ‘Satu Bumi’, semua pihak berpartisipasi dan berperan aktif sesuai dengan perannya masing-masing untuk mewujudkan One Earth. Kita ingin bersama-sama melindunginya. .” Head of Sustainable Environment Unilever Indonesia pada webinar “Storing the Circular Economy: Data and Traceability of Plastic Waste” pada Kamis, 9 Juni 2022.

Menurut catatan Waste4Change, kurangnya data pada tahap pengumpulan sampah plastik menciptakan kesenjangan besar antara sampah plastik yang diproduksi saat ini dan sampah plastik yang dapat didaur ulang.

Ini juga mempengaruhi produsen seperti Unilever. Tanpa data yang cukup, rantai pasokan daur ulang saat ini panjang dan tidak efisien. Dibutuhkan lebih banyak upaya untuk mendapatkan bahan baku dari plastik daur ulang secara massal sehingga dapat dikemas ulang.

Menurut PSLB3, Sinta Saptarina Soemiarno, Managing Director KLHK, Pengelola Pengurangan Sampah, TRANSFORM sangat mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan konsisten dengan berbagai upaya strategis pemerintah untuk meminimalisir dan membuang sampah.

Cinta berharap proyek ini akan mengurangi jumlah trotoar yang menuju ke TPA sejalan dengan tujuan pembangunan ekonomi sirkular Indonesia.

Rangkaian program yang dilaksanakan tidak terlepas dari peran serta mitra pengumpul dan pendaur ulang sampah. Hingga saat ini, proyek DIVERT telah melibatkan 556 mitra pengumpulan sampah, telah memperluas sistem ERP menjadi 51 mitra, dan telah mengumpulkan 778 ton sampah plastik dalam waktu 6 bulan.

Salah satu program yang dilaksanakan dalam proyek ini adalah pembentukan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) untuk ketertelusuran sampah, peningkatan kapasitas mitra pengumpulan sampah, dan peningkatan fasilitas pengumpulan dan pengolahan sampah. “Penggunaan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) akan meningkatkan pengumpulan, ketertelusuran, kuantitas dan kualitas sampah plastik,” kata Rezky.

Unilever percaya bahwa plastik memiliki tempat dalam perekonomian, tetapi tidak dalam lingkungan. Untuk tujuan ini, perusahaan membuat janji kuat berikut pada tahun 2025:

1. Mengurangi penggunaan kemasan plastik lebih dari 100.000 ton dan mempercepat penggunaan plastik daur ulang untuk mengurangi penggunaan plastik baru hingga setengahnya.

2. Pastikan kemasan plastik Anda 100% dapat digunakan kembali, dapat didaur ulang, atau dapat dibuat kompos.

3. Kami mengumpulkan dan memproses lebih banyak plastik daripada yang kami jual.

4. Tingkatkan kandungan plastik daur ulang (PCR) dalam kemasan Anda setidaknya 25%.

Upaya dari hulu ke hilir dari rantai bisnis ini memungkinkan Unilever Indonesia untuk mengumpulkan dan membuang lebih dari 45.900 ton sampah plastik pada tahun 2021 dengan mengumpulkan sampah plastik dari jaringannya di lebih dari 24.500 ton bank sampah dan membuang sampah tersebut sebagai bahan bakar turunan yang bertanggung jawab. Ada. (RDF) teknologi Lebih dari 21.400 ton.

Maya menyimpulkan, “Mari kita bekerja sama untuk menciptakan ekonomi sirkular untuk satu-satunya tanah kita sebagai bagian dari ekosistem rantai sampah Indonesia.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *