Oktober 5, 2022
Spread the love

– Sulawesi Utara terus menunjukkan kontribusinya terhadap kinerja ekspor pertanian Indonesia. Pada 2021, ekspor pertanian Sulut mencapai Rp 5,8 triliun. Sementara ekspor pertanian tahun ini mencapai Rp 2,9 triliun per 20 Mei 2022.

Negara dan bangsa harus tangguh dalam menghadapi tantangan multidimensi yang meliputi aspek geografis, fisik, demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Dengan demikian, ekspor memainkan peran penting dalam meningkatkan ketahanan pangan.” saba sport

Jan mengeluarkan komoditas ekspor Sulut senilai Rp 83 miliar. Ekspornya adalah fuli, biji pala, kelapa parut, bungkil kelapa, daging buah pala, bungkil kelapa sawit dan santan. Telah diekspor ke 15 negara, antara lain India, Vietnam, Italia, Selandia Baru, RRC, Argentina, Belanda, Australia, Cile, Amerika Serikat, dan Korea.

“Liberalisasi ekspor ini merupakan implementasi dari program Gratieks (Tiga Gerakan Ekspor) yang digagas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo,'” jelas Januari.

Secara keseluruhan, ekspor pertanian meningkat dari Rp390,16 triliun pada 2019 menjadi Rp625,04 triliun pada 2021.

Dengan dimulainya ekspor, Jan juga mengunjungi Balai Karantina Perkebunan (BKP) Kelas I Manado. Saat ini, BKP Kelas I Manado Sulut menggunakan teknologi untuk memantau kinerja pertanian, termasuk ekspor. Data bersifat real-time dan dapat diakses publik. Data diperoleh dari BKP Kelas I Manado, data dari pemerintah daerah dan petani.

“Ini bentuk modernisasi, seperti yang disampaikan Mentan. Teknologi yang kita gunakan untuk mempercepat dan mendorong peningkatan kinerja pertanian, ketahanan pangan, dan kedaulatan pangan.”

Jan mengatakan “Kami memiliki “kebijakan yang berlaku” untuk menjaga keamanan pangan untuk masa depan sambil “membalikkan penatalayanan”.

Kebijakan ini dilaksanakan melalui lima strategi. Pertama, fokus pada program-program strategis, prioritas tinggi, dan prioritas tinggi. Kedua, membangun sinergi antara APIP dengan aparat penegak hukum untuk mewujudkan ketahanan pangan. Ketiga: tercapainya kualitas pembangunan pertanian secara tepat waktu, sesuai mutu dan tujuan. Keempat, membangun sistem pelaporan yang terintegrasi melalui pembangunan pertanian yang cepat dan akurat. Kelima, membangun kemitraan strategis dengan pemangku kepentingan pertanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.